Skip to main content

Kompilasi Puisi #1 : Classic Night Ride SR

Cahaya rembulan sedang tak berkunjung,
rintik air berjenjang menyalut mega malam,
larut ku lipat dengan melanglang bersama kawan-kawan terbaik,
menjadi raja jalanan semalam,
dengan gelak tawa dan suara knalpot berbahana menggaung di jalanan Kota Kembang

————————

Kami mempercepat ruang dan waktu dengan berkendara, 
Kami menghentikan ruang dan waktu dengan kendaraan

————————

Lampu merah menyuar samar,
ku tatap mega dengan rintik malu mencium tanah membasahi aspal,
ku hentikan laju vespaku,
“Mungkin cahaya rembulan tak bisa menembus tebal awan hitam suram itu,
atau mungkin bosan padaku karena terus mendamba?"

Namun, untuk apa ku risau?

Lampu hijau berkelip,
aku pun kembali melaju,
berkendara bersama kawan-kawan,
meringkas asa,
memangkas resah.

————————

Kami bahagia,
dengan cara kami,
menyadur urban dengan memutar waktu,
menghaki jalanan dengan kecepatan,
mengarungi latisan bersama karib,
kami bahagia,
dengan cara kami.

————————

Mari hidupkan kembali
gaya yang tergerus masa,
laju yang tercecer waktu,

Kami klasik,
Kami asik.

————————


Comments

Popular posts from this blog

2015 (Bagian IV : Kawan)

Maaf urutan peristiwa di bagian-bagian 2015 agak berantakan, aku menulis sesuai ingatanku. Dan yang terakhir, aku akan menceritakan kisah pertemananku sepanjang 2015. Yang pertama adalah tentang pertemuan. Di awal 2015, aku mulai les di kursus menggambar khusus persiapan masuk seni rupa dan arsitektur. Nama tempat kursusnya 'SR104'. Lokasi utamanya dekat dengan kampus ganeca ITB di Jalan Ciungwanara tapi dulu sebelum persengketaan memanas ruang belajarnya terletak di suatu gedung sekolah tinggi di Dago dan kami diberi ruang kelas selama 2 jam pas. Sekarang gedung itu sudah kosong melompong. Dan aku jauh lebih suka suasana belajar di Ciungwanara, tempatnya terbilang kecil tapi kami jauh lebih membaur.  Seminggu dua minggu awal les, kami semua saling diam. Ada beberapa yang sering bersuara saat kelas karena mereka satu sekolah. Aku bukan tipe orang yang bisa menyapa orang duluan, jadi satu dua minggu awal aku hanya suka berbicara dengan para pengajar. Lalu ada h...

Keparat

Semakin besar diriku, dan seiring waktu berjalan, ketakutanku semakin jelas dan nyata : aku takut ditinggal. Sejak SMA, bangun di awal dini hari kemudian terkadang tidur lagi atau tidak sama sekali hanya sekadar terkadang. Lalu terhitung sejak tahun lalu, aku makin sangat sering terbangun dini hari dan berakhir tidur hanya hitungan 2-4 jam. Dan akhir-akhir ini, antara jam 12-4 aku selalu terbangun. Atau bahkan tidak tidur sama sekali. (Dan kemudian lingkaran hitam sekitar mataku semakin jelas) Aku amat suka malam dan hujan. Aku jatuh cinta akan kesunyiannya dan hujam air yang juga menciptakan kesunyian di dalam kebisingan, lalu tercipta suasana yang menenggelamkan kita pada kejujuran, kenangan, dan segala yang menuntun kita pada pikirian jernih. Tapi akhir-akhir ini pula, aku jadi sangat membenci malam dan hujan. Syahdu itu malah menciptakan monster menakutkan yang mengejarku, yang seolah-olah terus mendesakku bahwa cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya akan menin...
persetan dengan senja persetan dengan hujan perasaan datang tak mengenal waktu memori terulang tak mengenal musim kebencian juga datang tak mengenal suasana