Skip to main content

Posts

Merakit Sentosa

Kau akan selalu menemukan kebenaran yang menyenangkan disaat kau tersaruk mengais kebahagiaan yang dirasa jauh. Percayalah bahwa apapun yang kau usahakan tak akan pernah sia-sia, selama kau benar-benar tulus dan rela mengeluarkan segala kemampuanmu. Tak lupa disertai doa. Lalu saat kau sudah mengerahkan semuanya, berpasrahlah pada Tuhan karena semua usahamu akan terbayar. Entah wujudnya sesuai bayanganmu atau jauh diluar itu, semuanya akan sepadan. Jika sesuai bayanganmu, berarti kau akan bahagia sesuai bayanganmu. Jika itu tak sesuai, kelak kau akan bahagia karena mendapatkan perbekalan berharga untuk pelayaranmu melawan ombak lautan esok hari dan seterusnya. Kebahagiaan tak bisa kau raih dari hasil harap termangu sewindu tanpa menggerakkan badan untuk berlari, mencari, dan menciptakannya sendiri. Kau tak bisa mendapatkan rasa bahagia dari terus mengharapkan orang lain akan tiba-tiba mewujudkannya. Ayolah, bahkan dongeng-dongeng yang suka kau baca di masa kecilmu selalu mencerit...

Setapak Renung dan Bara Imaji.

Aku selalu suka jalan kaki, apalagi kalau sendirian. Menyusuri trotoar pinggir jalanan besar, menantang arus kendaraan bringas dari samping jalan. Karena biasanya, saat berjalan kaki sendirian aku tak perlu menyamakan langkah kaki dengan siapapun (jika aku berjalan bergerombol, aku sering tersesat sendirian karena langkahku kecil-kecil tetapi cepat jadi tiba-tiba aku duluan). Lalu bagian seru lainnya, aku bisa mendengar suara kepalaku sendiri. Terus aku bisa menciptakan hening dalam kebisingan kota dari hasil lebur pikiranku. Setiap langkah menggemakan kalimat. Lalu merajut paragraf-paragraf yang terus berputar bebas di kepalaku, tentang apapun ; tentang sekolah, tentang mama dan papa, tentang teman, tentang temannya teman, tentang potongan rambut impian, tentang kata, tentang perasaan, dan lain-lain banyak sekali. Terkadang juga membentuk imaji terang ; semua tentang terasa bahagia. Tapi biasanya paragraf ini membara panas, meyakinkan diriku bahwa apapun yang aku pikir...

Takut, bingung?

"Ingat! Setelah 3 bulan lagi, kalian sudah menghilang dari tempat ini." Lalu kelas sunyi senyap. "Minggu depan kalian foto untuk ijazah ya, dan foto pakai toga untuk arbes." Lalu sekelas bersorak sorai, tapi aku masih terdiam. YAP! SMA sebentar lagi usai. Akankah aku masuk ke perguruan tinggi yang aku impikan? Akankah tempatku kelak menjadi titik dari segalanya dimasa depan? Apa rencana Tuhan untuk kami semua? Bagi kalian yang sudah menempuh bagian ini dalam hidup, apakah selalu semenegangkan ini?

Tipu Daya Ruang Waktu

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua Mengecapmu lewat mimpi adalah hal terjauh yang sanggup kujalani Meski hanya satu dari ribuan malam Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku Sekali mengenalmu menjadi tujuan hidupku Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita Engkau membuatku putus asa dan mencinta Pada saat yang sama . " Aku jatuh cinta sama bait terakhirnya.." "Biarkan kau larut, Tuan Putri."

2015 (Bagian IV : Kawan)

Maaf urutan peristiwa di bagian-bagian 2015 agak berantakan, aku menulis sesuai ingatanku. Dan yang terakhir, aku akan menceritakan kisah pertemananku sepanjang 2015. Yang pertama adalah tentang pertemuan. Di awal 2015, aku mulai les di kursus menggambar khusus persiapan masuk seni rupa dan arsitektur. Nama tempat kursusnya 'SR104'. Lokasi utamanya dekat dengan kampus ganeca ITB di Jalan Ciungwanara tapi dulu sebelum persengketaan memanas ruang belajarnya terletak di suatu gedung sekolah tinggi di Dago dan kami diberi ruang kelas selama 2 jam pas. Sekarang gedung itu sudah kosong melompong. Dan aku jauh lebih suka suasana belajar di Ciungwanara, tempatnya terbilang kecil tapi kami jauh lebih membaur.  Seminggu dua minggu awal les, kami semua saling diam. Ada beberapa yang sering bersuara saat kelas karena mereka satu sekolah. Aku bukan tipe orang yang bisa menyapa orang duluan, jadi satu dua minggu awal aku hanya suka berbicara dengan para pengajar. Lalu ada h...

Keparat

Semakin besar diriku, dan seiring waktu berjalan, ketakutanku semakin jelas dan nyata : aku takut ditinggal. Sejak SMA, bangun di awal dini hari kemudian terkadang tidur lagi atau tidak sama sekali hanya sekadar terkadang. Lalu terhitung sejak tahun lalu, aku makin sangat sering terbangun dini hari dan berakhir tidur hanya hitungan 2-4 jam. Dan akhir-akhir ini, antara jam 12-4 aku selalu terbangun. Atau bahkan tidak tidur sama sekali. (Dan kemudian lingkaran hitam sekitar mataku semakin jelas) Aku amat suka malam dan hujan. Aku jatuh cinta akan kesunyiannya dan hujam air yang juga menciptakan kesunyian di dalam kebisingan, lalu tercipta suasana yang menenggelamkan kita pada kejujuran, kenangan, dan segala yang menuntun kita pada pikirian jernih. Tapi akhir-akhir ini pula, aku jadi sangat membenci malam dan hujan. Syahdu itu malah menciptakan monster menakutkan yang mengejarku, yang seolah-olah terus mendesakku bahwa cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya akan menin...

2015 ( Bagian III : Sepenggal Kelas dan Kamu)

Oiya, aku melupakan bagian kenaikan kelas 11 ke kelas 12 di awal pertengajan tahun 2015. Dulu aku menjalani 1 tahun kelas 11 di 11-7 atau 11 IPS-1. Satu tahun yang cukup menyenangkan. Aku bertemu teman-teman baru tentunya dan kelas ini cukup memberi kesan di SMA ku. Hari terakhir kami berada di satu kelas adalah saat pembagian rapor semester 2. Ada 3 orang teman kami yang dinyatakan tidak naik kelas dan 2 diantaranya memutuskan untuk tidak lagi bersekolah disini. Hari yang cukup emosional, mengingat 3 orang ini adalah anak-anak yang bandel dan sukanya bercanda. Lalu suatu malam kami mengadakan acara sekadar makan malam untuk berfoya-foya memakai uang kas kelas yang borjuis, kami makan di suatu restoran di Jalan Setiabudi. Tak hanya makan, kami lalu berbagi cerita seperti kesan pesan selama satu kelas, masalah pribadi juga cita-cita dan masa depan. Tapi kami lebih lama membahas soal kesan pesan sesama. Semua orang , termasuk aku, jadi tau pendapat tentang dirinya sendiri dari orang-o...