Aku selalu suka jalan kaki, apalagi kalau sendirian.
Menyusuri trotoar pinggir jalanan besar, menantang arus kendaraan bringas dari samping jalan.
Karena biasanya, saat berjalan kaki sendirian aku tak perlu menyamakan langkah kaki dengan siapapun (jika aku berjalan bergerombol, aku sering tersesat sendirian karena langkahku kecil-kecil tetapi cepat jadi tiba-tiba aku duluan).
Lalu bagian seru lainnya, aku bisa mendengar suara kepalaku sendiri.
Terus aku bisa menciptakan hening dalam kebisingan kota dari hasil lebur pikiranku.
Setiap langkah menggemakan kalimat.
Lalu merajut paragraf-paragraf yang terus berputar bebas di kepalaku, tentang apapun ;
tentang sekolah,
tentang mama dan papa,
tentang teman,
tentang temannya teman,
tentang potongan rambut impian,
tentang kata,
tentang perasaan,
dan lain-lain banyak sekali.
Terkadang juga membentuk imaji terang ; semua tentang terasa bahagia.
Tapi biasanya paragraf ini membara panas, meyakinkan diriku bahwa apapun yang aku pikirkan semuanya diselimuti Aku.
Aku begitu pemberani di kepalaku sendiri.
Aku begitu merajai langit semesta dengan-Nya sebagai pilar penyokong.
Aku selalu yakin bahwa semua yang terjadi selalu bisa aku tangkap, genggam dan aku jinjing kemanapun aku suka.
Aku adalah sutradara dan Tuhan sebagai pencipta, penggagas cerita.
Tapi, eh tapi.
eng ing eng ....
Aku hanya berani di kepala.
Aku hanya terbakar dijiwa.
Lalu saat aku benar-benar ingin membakar,
aku tak bisa menyalakan api.
Siklus renung - kalimat tumpah di kepala - terbentuk paragraf - terbakar - tiba-tiba beku terus berputar di hari-hariku.
Sebenarnya aku bosan menjadi budak diriku sendiri.
Aku ingin bebas dari belenggu kecemasan, keraguan, dan ketakutan akan semuanya.
Aku tidak ingin terus menulis tentang ketakutan.
Aku ingin sekali-kali menulis tentang kebebasan, kepastian, dan keberanian yang hakiki.
Benar-benar tentang aku membakar dunia, kalau bisa sampai apinya menari-nari tinggi dan benda-benda menjadi abu.
Sehingga aku tak lagi melihat imaji mimpi, aku hanya akan melihat debu-debu itu melebur indah dengan langit senja.
Menjadi wujud, menjadi nyata.
Semangatku semakin terdengar mengerikan, ya?
Maaf, ya?
Tolong biarkan semua sampah disini jadi wujud baraku.
Karena aku sedang ada diposisi dimana aku percaya bahwa menumpahkan pikiran lewat tulisan adalah wujud membakar, menciptakan bara di dunia.
20:46,
pulang les gambar, termenung di kamar mandi lalu teringat perjalanan kaki agak panjang menuju tempat les tadi sore.
Comments
Post a Comment