Skip to main content

2015 (Bagian I : RUNTASTIC & bala-bala )

Aku bisa bilang bahwa tahun 2015 adalah tahun yang mahadahsyat. Aku menyadari sangat banyak hal yang terjadi dihidupku; pengalaman baru, tanggung jawab, pendewasaan diri, dll. Tahun ini mengajariku banyak hal dan bahkan merubah diriku. 

Aku tak bisa menolak bahwa segala kemahadasyatan ini berawal dari keikutsertaanku menjadi anggota inti di 2 acara besar sekolahku yang terlaksana pada 1 Agustus dan 17 Oktober kemarin. Memegang tanggung jawab sebagai ketua kordiv logistik dan wakil ketua kordiv logistik di 2 event besar bukanlah hal mudah, setidaknya bagiku yang tak pernah terpikir akan menjadi bagian terdalam dari suatu acara. Mengapa?
Jika kalian belum tau atau tidak tahu, aku selalu canggung bekerjasama dengan orang lain. Jangankan bekerjasama, berbicara dengan orang yang tidak dekat denganku adalah salah satu hal tercanggung yang harus aku hadapi. Kalau kau sudah mengenalku dan tidak memercayai ini, ketahuilah, saat berbicara denganmu untuk pertama kali itu adalah saat dimana aku punya peperangan batin. Dan jangan pernah mengharapkan aku akan berbicara terlebih dahulu pada pertemuan pertama kita, karena aku takut. Canggung. Begitulah.
Lalu aku juga sering meremehkan diriku sendiri. Menganggap bahwa diriku tidam handal dalam menghadapi beberapa hal yang akhirnya membuat aku terlihat manusia pemalas. I kinda have a trust issue about myself.

Dan aku merasa aku berubah.

Keputusan salah satu temanku, Ayunda, yang merupakan ketua pelaksana acara bertajuk RUNTASTIC 2015 di tanggal 1 Agustus silam pada suatu pagi, mengubah hidupku. Dan aku tak pernah bisa mengucapkan seberapa besar aku berterima kasih padanya atas kepercayaannya mengutusku menjadi ketua kordiv logistik. Pada awalnya, alasannya hanya sebatas, "Bosen ketuanya cowo terus, mungkin kali kali cewe bisa beda". Semoga siapapun yang datang ke dua event kemarin merasakan perbedaan yang positif, ya. Aamiin.
Terhitung dari Januari, aku mulai menyicil pekerjaanku. Mulai dari mencari wakil ketua (akhirnya jatuh pada Kiki Amrullah), mencari anggota (yang awalnya hanya direncanakan 20 orang dan berakhir 54 orang), menyusun RAB kasar (sampai mencapai kesepakatan RAB sesungguhnya adalah pekerjaan terberat menjadi seorang ketua divisi logistik), mencari sumber tentang pekerjaannku, mencari vendor (mencari vendor yang cocok seperti mencari soulmate, percayalah) dll. 

Kalau kalian penasaran, hal ini sangat tidak mudah, berhubung dengan logistik merupakan perwujudan fisik acara dan aku bertanggung jawab atas itu. Selain itu, aku perempuan dan aku merasa aku buta soal peralatan, perlengkapan, dan degala tetek bengeknya. Tahun sebelumnya  2014, aku hanyalah anggota logistik biasa. Aku punya tanggung jawab hanya sebagai ketua kelompok di subdivisi Stage - Logistik. Semuanya terasa baru dan menantang. Ditambah masalah akan diriku sendiri.

Oh ya, lalu di pertengahan Bulan Juanuari juga aku dan teman-teman angkatan 2016 pergi ke Bali. Wow, 1 minggu yang cukup menyenangkan dan melelahkan. Jika kau tanya mengapa 'cukup', karena aku merasa aku tidak merasa bahagia yang teramat sangat, tapi aku menikmati perjalanan kami dan sangat bersyukur bisa belajar banyak hal baru. Dan malam terakhir disana adalah momen terseru yang aku alami selama berada di Bali. Aku tidak akan pernah menyesal pernah datang ke salah satu klub di Kuta tepat jam 12 malam bersama banyak teman lainnya yang mendatangkan malapetaka berkepanjangan untuk kami selama beberapa bulan setelahnya.
Hingar bingar!!!!!!!!!! Hahahahhaaa. Kalau aku tak pernah menginjakkan kaki disana, aku tidak menjamin Bali Tour akan menjadi bagian masa SMA yang akan aku kenang selamanya.

Kembali ke Bandung, aku disadarkan oleh tanggungjawabku sebagai ketua logisitik. Okay, setelah refreshing kami semua harus lebih serius dan masalah serius yang mulai aku hadapi adalah mencari vendor logistik. Lalu di sekitar Bulan Maret, aku bertemu Rafi, seseorang yang merupakan Marketing Leader di sebuah vendor logistik bernama Light Entertainment. Dia alumnus yang perusahaannya dikenalkan oleh seorang alumni kepada kami, lalu kami mulai sering berbincang soal logistik. Singkat cerita, karena kinerja dan personal touch oleh LE yang aku pribadi suka, akhirnya aku memilih vendor ini sebagai partner di dua acara kami setelah banyak vendor yang aku kunjungi dan analisa.

Lalu perjalanan menuju Bulan Agustus dimulai. Aku mengerahkan segala tenaga, waktu dan konsentrasiku untuk acara ini. Ada saat-saat dimana aku merasa acara ini adalah pusat hidupku dan rasanya memang begitu. Waktu luang yang biasanya kupakai hanya untuk sekedar bersantai dirumah atau nongkrong di sekolah sampai sore hari dan waktu-waktu sempit di sela-sela jadwal semuanya terpakai dengan rapat - planning, rapat - planning dan rapat - planning. Jangankan waktu luang di hari sekolah, baahkan di hari libur, aku harus berpergian ke basecamp panitia atau basecamp LE untuk mengerjakan segala progress acara. Di hari-hari libur puasa dan menuju lebaran pun aku sering tidak ada dirumah. Bahkan di Hari Lebaran ke 2, Rafi datang ke rumah keluarga besar ibuku larut malam untuk mengambil uang termin. Di Hari Lebaran hahahahaa, sangat perlu digarisbawahi. Bahkan kami membicarakan sedikit tentang acara.
Kebiasaanku berubah hampir drastis. Bahkan air mukaku tak pernah setenang biasanya, kira-kira begitulah kata teman-teman terdekatku. Kakiku juga tak pernah berhenti bergerak mencari orang-orang.
Tapi soal perubahanku, aku sering merasakan perdebatan batin. Apakah perubahan ini membawaku ke hal yang lebih baik? Apa teman-temanku menyukai perubahanku?.
Salah satu alasan mengapa aku menerima semua kesibukan ini adalah aku selalu memikirkan hal-hal apapun terlalu jauh, atau sebut overthinking. Yang aku benci dari sifatku ini adalah ketika aku memikirkan hal-hal yang tidak berguna untukku tapi selalu berhasil mengusikku. Lalu keinginanku yang teramat sangat untuk mengubah kecanggunganku dengan orang lain dan keinginanku untuk melupakan banyak masa lalu yang menyiksa otak overthinking-ku membuatku ingin selalu tenggelam dikesibukan ini. Segala pekerjaan ini berhasil membuat jalan pikirku (setidaknya) lebih terarah dan aku berhasil mengurangi kadar kecanggunganku. Aku juga mulai sering merupakan masa lalu dan hal-hal yang tidak ingin aku rasakan dan pikirkan.
Tapi disatu sisi, terkadang aku merasa jauh dengan teman-teman dekatku di sekolah. Mereka kebanyakan bukan bagian inti dari panitia, sebagian dari mereka hanya panitia biasa dan bahkan ada yang tidak berpartisipasi sama sekali. Aku tidak bisa berbicara banyak soal apa yang aku kerjakan karena aku pikir mereka tidak akan mengerti, tidak penting untuk mereka dan akan hanya menambah beban. Kadang aku merasa kehilangan.
Suatu hari, aku mendapati diriku kebingungan diantara pelarian yang aku ciptakan sendiri dan aku merasa sendirian. Lalu kemudian hari aku bangkit dan mengatakan pada diriku sendiri jika aku ingin menjadi seseorang yang aku inginkan ya maka perjuangkan dengan catatan tidak kehilangan dirimu sendiri. Lalu aku mulai berbicara kepada teman-temanku apa yang kurasakan dan mereka semua mendukungku dan mengatakan tidak apa-apa. Rasanya menyenangkan.

Tapi suatu hari di Bulan Mei, ketika aku sedang bersemangat untuk memperjuangkan diriku sendiri, aku kehilangan nenek. Ia memang sedang berjuang melawan penyakit jantung akut yang membuatnya terbaring lemas di rumah sakit selama 2 bulan (Desember 2015 sampai Januari 2015) dan di rumah uwaku selama 4 bulan berikutnya. Ia sosok yang sangat baik, aku bahkan tak bisa menulis banyak tentangnya disini karena begitu banyak kebahagiaan yang ia ciptakan untukku selama aku hidup. Kalau kau membayangkan ia adalah tipe nenek berambut putih, berawak kecil, senyum ramah, masakannya enak, dan suka tertawa renyah saat menceritakan kisahnya saat muda, kau benar. Aku sangat, sangat, sangat amat mencintainya.
Di hari dimana ia pergi, aku tidak menangis. Aku terlalu sedih hingga air matapun bingung. Hingga saat hari pemakamannya tiba, aku akhirnya tersedu-sedu dibalik punggung ayahku ketika beliau sedang disemayamkan ke dalam perut bumi. 

Singkat cerita, hari menuju 1 Agustus sudah dekat. Dan 2 hari menuju tanggal tersebut, aku mengalami stress yang luar biasa seperti tidak bisa tidur dan sering menghela nafas berat dan panjang. Ada beberapa teknis yang tak seharusnya seperti kesalahan teknis pemasangan ini itu dan masalah komunikasi. Hingga puncaknya di H-1 sore jari, aku menangis di depan beberapa kawan panitia inti, anggota logistik, dan Rafi. Sangat malu kalau diingat, sumpah deh. Tapi ya, bagaimana lagi, namanya juga perempuan..... he.
Tapi karena aku punya banyak teman yang bisa diandalkan, semuanya berjalan dengan baik.
Lalu 1 Agustus berjalan cukup lancar, alhamdulillah. Hari-H berjalan cukup terkendali dan aku rindu hingar bingarnya. Keinginanku untuk berkomunikasi lewat handy talky akhirnya tercapai, hehe. Dan percayalah, berkomunikasi memakai HT saat acara berlangsung itu sangat seru. Alay deh, le.
Aku merasa sangat lelah hari itu, ditambah belum mandi dari kemarinnya. Tapi aku sangat senang dan lega.
Kita semua, para inti panitia, berkumpul jam tepat jam 4 pagi di aula lantai 2. Tidak setepat itu, sih, karena ada yang telat perjalanan dari rumah atau yang tidur susah dibangunkan. Kita semua terlihat seperti sekumpulan zombie. Lalu aku berkumpul dengan seluruh panitia logistik untuk menyampaikan tugas-tugas penting dan proritas mereka. Aku belum merasa menjadi pemimpin yang baik, tapi bisa aku pastikan bahwa aku memiliki orang-orang yang terbaik.
Acara saat hari-h dibagi 2, acara lari di pagi hari lalu kemudian bazaar. Ada juga lomba mewarnai di pagi hari khusus untuk anak-anak TK sampai SD. Kami menargetkan lari akan selesai sekitar pukul 9 pagi, tetapi tak disangka pelari pertama sudah muncut 45 menit setelah acara dimulai. Kami semua agak panik karena kami tak menyangka pelari pertama akan menempuh waktu secepat itu untuk funrun sejauh 5 KM, tapi akhirnya semua baik-baik saja. Susunan acara berjalan cukup mulus, walaupun ada keterlambatan dari waktu susunan acara yang telat panitia acara susun. Pelajaran berharga lainnya : Jika waktu acara berlangsung tidak begitu sesuai rundown, percayalah, itu hal yang sangat wajar. Tetap tenang dan buatlah rencana cadangan sebanyak mungkin sebelumnya.
Aku cukup puas saat ada beberapa orang yang mengatakan bawa panggungnya bagus dan sound system-nya juga sangat enak didengar. Aku memang punya orang-orang yang bisa diandalkan.
Saat artis puncak kami, Teza Sumendra, berada di atas panggung dan hingar bingar penonton terasa nyata, aku menjabat tangan Rafi dengan keras sambil melihat keramaian penonton dan panggung yang sangat meriah, lalu menahan tangis. 

Aku berhasil.

Itu adalah kali pertama setelah berbulan-bulan aku memperjuangan segalanya, aku merasa sangat lega. Akhirnya aku bisa membuahkan hasil dari usahaku mendorong diriku sendiri. Aku bisa merobohkan tembok kecanggunganku, keraguanku, ketakutanu akan diri sendiri. Aku .... aku bahkan tak bisa menjelaskan dengan kata-kata akan segala yang aku rasakan setelah mendapatkan semua pengalaman ini. Mungkin aku terdengar berlebihan, tapi ketika kamu punya jiwa introvert, kamu pasti akan merasakan hal serupa.

Aku berubah. Dan aku menyukai hal ini.



H-1 (sumber : IG @hasnafs)



(Lanjut ke bagian II, kalau masih penasaran.)

Comments

Popular posts from this blog

2015 (Bagian IV : Kawan)

Maaf urutan peristiwa di bagian-bagian 2015 agak berantakan, aku menulis sesuai ingatanku. Dan yang terakhir, aku akan menceritakan kisah pertemananku sepanjang 2015. Yang pertama adalah tentang pertemuan. Di awal 2015, aku mulai les di kursus menggambar khusus persiapan masuk seni rupa dan arsitektur. Nama tempat kursusnya 'SR104'. Lokasi utamanya dekat dengan kampus ganeca ITB di Jalan Ciungwanara tapi dulu sebelum persengketaan memanas ruang belajarnya terletak di suatu gedung sekolah tinggi di Dago dan kami diberi ruang kelas selama 2 jam pas. Sekarang gedung itu sudah kosong melompong. Dan aku jauh lebih suka suasana belajar di Ciungwanara, tempatnya terbilang kecil tapi kami jauh lebih membaur.  Seminggu dua minggu awal les, kami semua saling diam. Ada beberapa yang sering bersuara saat kelas karena mereka satu sekolah. Aku bukan tipe orang yang bisa menyapa orang duluan, jadi satu dua minggu awal aku hanya suka berbicara dengan para pengajar. Lalu ada h...

Keparat

Semakin besar diriku, dan seiring waktu berjalan, ketakutanku semakin jelas dan nyata : aku takut ditinggal. Sejak SMA, bangun di awal dini hari kemudian terkadang tidur lagi atau tidak sama sekali hanya sekadar terkadang. Lalu terhitung sejak tahun lalu, aku makin sangat sering terbangun dini hari dan berakhir tidur hanya hitungan 2-4 jam. Dan akhir-akhir ini, antara jam 12-4 aku selalu terbangun. Atau bahkan tidak tidur sama sekali. (Dan kemudian lingkaran hitam sekitar mataku semakin jelas) Aku amat suka malam dan hujan. Aku jatuh cinta akan kesunyiannya dan hujam air yang juga menciptakan kesunyian di dalam kebisingan, lalu tercipta suasana yang menenggelamkan kita pada kejujuran, kenangan, dan segala yang menuntun kita pada pikirian jernih. Tapi akhir-akhir ini pula, aku jadi sangat membenci malam dan hujan. Syahdu itu malah menciptakan monster menakutkan yang mengejarku, yang seolah-olah terus mendesakku bahwa cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya akan menin...
persetan dengan senja persetan dengan hujan perasaan datang tak mengenal waktu memori terulang tak mengenal musim kebencian juga datang tak mengenal suasana