Diingatnya ketika suatu hari ia mengunjungi bukit dekat rumah
lalu cahaya purnama merengkuh tubuhnya.
Ia seketika tahu bahwa hangat cahaya itu,
akanlah jadi selalu yang dinanti.
Satu bulan, dua bulan
ia selalu kembali ke bukit
cahaya itu tak kunjung merengkuhnya,
mengunjunginya saja tidak.
Ia bertanya tanya pada mega malam, "Kenapa kamu selalu menangis?"
Biasanya ia sangat suka hujan di malam hari.
Ia mencoba memanggil bulan ditengah langit yang sabak,
tapi ia tak kunjung datang.
Sekalinya terlihat cuman sedetik,
sedikit,
lalu kembali terhalang awan hitam.
Padahal ia sudah dimarahi ibu, jangan keluar malam terus
Cahaya tak kunjung merengkuhnya,
ia kedinginan,
gelap,
putus asa,
lalu berucap, "Mungkin cahayamu tak bisa menembus tebal awan hitam suram itu,
atau mungkin bosan padaku karena terus mendamba?"
Malam ini,
ia tidak keluar rumah.
Comments
Post a Comment