Skip to main content

Aku dan Aksara

Semakin besar umurku, semakin aku menyadari bahwa karya sastra adalah segalanya.

Sebelum ini, sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah aku tulis di sini. Dan sebagian besar tentang kehidupan romansa atau masalah perasaan atau apapun itu, silahkan menilaiku sentimen. Tapi hidup ini tidak pernah terlepas dari masalah perasaan, kan? Kawanku, Nadyra, selalu berkata, "Bukan masalah baper, tapi masalah manusia selalu punya perasaan". Dan aku selalu benci kata baper. Menghilangkan substansi manusia sebagai daging berisi jiwa.
Kembali ke dulu aku punya banyak tulisan sebelum ini. Alasan aku menghapus semuanya adalah ketidaksiapanku untuk dunia melihat betapa sebenarnya aku tidak nampak seperti aku dari luar, atau mungkin ketidaksiapanku melihat masa lalu diriku sebelum tau lebih banyak. Dulu, aku sangat konyol.

Menghapus tulisan sama dengan membuang intan permata, itu berlaku untuk semua orang yang menghargai sastra. Tapi aku membuang semua itu untuk mencari intan permata yang lebih jernih. Aku meninggalkan masa lalu untuk diriku yang lebih baik. Aku memilih tidak mengabadikan kebodohanku dimasa lalu, begitulah sederhananya.

Hari ini hujan.
Aku suka hujan.
Dan mulai hari ini atau lebih tepatnya 2 hari lalu, aku akan menjalani hari dengan sepotong pedih orang lain.

Seperti rintik air yang terus bertubrukan dengan bumi yang pedih.
Seperti rintik air mengubah nasib tanah kekeringan.

Aku tak apa,
demi kamu.

Comments

Popular posts from this blog

Damai

Kepergian Jonghyun meninggalkan luka untuk banyak sekali orang dan meninggalkan kehancuran bagi keluarga dan para anggota SHINee. Beberapa hari setelah Jonghyun meninggal, aku selalu mengikuti perkembangan berita tentang Jonghyun dan teman-teman satu grupnya. Bagaimana Jonghyun sering berbicara tentang depresi yang dialaminya di beberapa wawancara dan khususnya di surat terakhir yang ia berikan pada sahabatnya. Bagaimana kedekatannya dengan anggota lain di berbagai variety shows dan di atas panggung. Bagaimana sifatnya yang sangat lugu dan menyenangkan di depan layar kaca, yang seringkali membuat siapapun tertawa. Bagaimana ia selalu menyanyi dengan sepenuh hati dan membuat siapapun merinding. Di balik segala keajaiban yang ia ciptakan, ternyata ia bergelut dengan monster kelam yang merenggut jiwanya perlahan. Mungkin banyak orang yang berkata, “Kenapa ia sampai harus mengakhiri hidupnya? ia depresi karena ia tak mau berdamai dengan dirinya sendiri kan?” “Betapa bodoh keputusan...

Merakit Sentosa

Kau akan selalu menemukan kebenaran yang menyenangkan disaat kau tersaruk mengais kebahagiaan yang dirasa jauh. Percayalah bahwa apapun yang kau usahakan tak akan pernah sia-sia, selama kau benar-benar tulus dan rela mengeluarkan segala kemampuanmu. Tak lupa disertai doa. Lalu saat kau sudah mengerahkan semuanya, berpasrahlah pada Tuhan karena semua usahamu akan terbayar. Entah wujudnya sesuai bayanganmu atau jauh diluar itu, semuanya akan sepadan. Jika sesuai bayanganmu, berarti kau akan bahagia sesuai bayanganmu. Jika itu tak sesuai, kelak kau akan bahagia karena mendapatkan perbekalan berharga untuk pelayaranmu melawan ombak lautan esok hari dan seterusnya. Kebahagiaan tak bisa kau raih dari hasil harap termangu sewindu tanpa menggerakkan badan untuk berlari, mencari, dan menciptakannya sendiri. Kau tak bisa mendapatkan rasa bahagia dari terus mengharapkan orang lain akan tiba-tiba mewujudkannya. Ayolah, bahkan dongeng-dongeng yang suka kau baca di masa kecilmu selalu mencerit...

Setapak Renung dan Bara Imaji.

Aku selalu suka jalan kaki, apalagi kalau sendirian. Menyusuri trotoar pinggir jalanan besar, menantang arus kendaraan bringas dari samping jalan. Karena biasanya, saat berjalan kaki sendirian aku tak perlu menyamakan langkah kaki dengan siapapun (jika aku berjalan bergerombol, aku sering tersesat sendirian karena langkahku kecil-kecil tetapi cepat jadi tiba-tiba aku duluan). Lalu bagian seru lainnya, aku bisa mendengar suara kepalaku sendiri. Terus aku bisa menciptakan hening dalam kebisingan kota dari hasil lebur pikiranku. Setiap langkah menggemakan kalimat. Lalu merajut paragraf-paragraf yang terus berputar bebas di kepalaku, tentang apapun ; tentang sekolah, tentang mama dan papa, tentang teman, tentang temannya teman, tentang potongan rambut impian, tentang kata, tentang perasaan, dan lain-lain banyak sekali. Terkadang juga membentuk imaji terang ; semua tentang terasa bahagia. Tapi biasanya paragraf ini membara panas, meyakinkan diriku bahwa apapun yang aku pikir...