Skip to main content

Bumi dan Galaksi Lain

Walau terkadang aku menyangkal apa yang ibuku lakukan atau katakan karena aku pikir ia terkadang terlalu banyak berbicara, tapi aku akui aku selalu ingin bisa seperti ibuku yang bisa menyampaikan apa yang ia rasakan.

Aku iri pada keberaniannya.

Ia selalu berani menyampaikan pendapatnya tanpa ragu dan takut akan celaan atau penolakan orang lain, ia selalu berani mempertahankan prinsipnya demi menjadi diri sendiri. Kepercayaan diri seperti itu seperti bumi dan galaksi lain dibandingkan dengan kepercayaanku pada diriku sendiri.

Terkadang aku kesal karena kejujuran ibuku yang selalu langsung menghujam perasaan, atau luapan emosi ibuku yang membuatku dan sekitarnya kewalahan. Tapi di satu sisi aku begitu bangga dengannya, karena ia selalu tau apapun yang ia lakukan, ia selalu mempunyai 1 prinsip tetap ;
"Mama tak pernah mau memendam perasaan. Semakin sering kita sungkan lalu berakhir dengan selalu memendam perasaan, semakin banyak masalah yang kita buat,"
Aku mengerti maksudnya, tak semua yang kita rasakan harus selalu dipendam karena mungkin orang lain hanya butuh penjelasan, dan semuanya tak akan selesai hanya karena kita sungkan.

Kejujuran kadang menciptakan kekecewaan, perseteruan, atau lebih buruknya lagi perpisahan. Tapi semuanya akan lebih jelas dan kita tak perlu menerka hal-hal yang aneh.

Aku ingin bisa selepas ibuku, sejujur ibuku, seterbuka ibuku, sepercaya diri ibuku.

Aku hanya ingin semua orang yang aku cintai tau maksudku melalukan semua ini, dan kemudian kejujuranku melahirkan kejujuran lain tentang apa yang mereka pikirkan.
Aku dan ibuku bagai bumi dan galaksi lain.

Kenapa sulit, ya?

Comments

Popular posts from this blog

2015 (Bagian IV : Kawan)

Maaf urutan peristiwa di bagian-bagian 2015 agak berantakan, aku menulis sesuai ingatanku. Dan yang terakhir, aku akan menceritakan kisah pertemananku sepanjang 2015. Yang pertama adalah tentang pertemuan. Di awal 2015, aku mulai les di kursus menggambar khusus persiapan masuk seni rupa dan arsitektur. Nama tempat kursusnya 'SR104'. Lokasi utamanya dekat dengan kampus ganeca ITB di Jalan Ciungwanara tapi dulu sebelum persengketaan memanas ruang belajarnya terletak di suatu gedung sekolah tinggi di Dago dan kami diberi ruang kelas selama 2 jam pas. Sekarang gedung itu sudah kosong melompong. Dan aku jauh lebih suka suasana belajar di Ciungwanara, tempatnya terbilang kecil tapi kami jauh lebih membaur.  Seminggu dua minggu awal les, kami semua saling diam. Ada beberapa yang sering bersuara saat kelas karena mereka satu sekolah. Aku bukan tipe orang yang bisa menyapa orang duluan, jadi satu dua minggu awal aku hanya suka berbicara dengan para pengajar. Lalu ada h...

Keparat

Semakin besar diriku, dan seiring waktu berjalan, ketakutanku semakin jelas dan nyata : aku takut ditinggal. Sejak SMA, bangun di awal dini hari kemudian terkadang tidur lagi atau tidak sama sekali hanya sekadar terkadang. Lalu terhitung sejak tahun lalu, aku makin sangat sering terbangun dini hari dan berakhir tidur hanya hitungan 2-4 jam. Dan akhir-akhir ini, antara jam 12-4 aku selalu terbangun. Atau bahkan tidak tidur sama sekali. (Dan kemudian lingkaran hitam sekitar mataku semakin jelas) Aku amat suka malam dan hujan. Aku jatuh cinta akan kesunyiannya dan hujam air yang juga menciptakan kesunyian di dalam kebisingan, lalu tercipta suasana yang menenggelamkan kita pada kejujuran, kenangan, dan segala yang menuntun kita pada pikirian jernih. Tapi akhir-akhir ini pula, aku jadi sangat membenci malam dan hujan. Syahdu itu malah menciptakan monster menakutkan yang mengejarku, yang seolah-olah terus mendesakku bahwa cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya akan menin...
persetan dengan senja persetan dengan hujan perasaan datang tak mengenal waktu memori terulang tak mengenal musim kebencian juga datang tak mengenal suasana