Skip to main content
"Ada saatnya kamu bakalan ngerasa muak sama banyak hal, bahkan termasuk zona nyaman kamu sendiri, teman-teman kamu, darimana kamu berasal, dan lainnya. Dan ga apa-apa, kok, ngerasa kaya gitu,".

Beberapa minggu kebelakang ini, aku sedang sering-seringnya mengobrol dengan satu sepupu. Kita memang dekat sejak bayi, pernah satu tempat tinggal lalu keluarganya memutuskan untuk pindah ke rumah sendiri saat aku menginjak jenjang SD akhir menuju SMP dan dia SMA. Sekarang aku baru saja lulus SMA dan dia mahasiswa tingkat akhir di fakultas dan jurusan impianku.
Kita jadi sering mengobrol dan semakin dekat karena ada satu dan lain hal yang saling berhubungan lalu end up with mengobrol lewat telfon larut malam untuk sekedar curhat.
Kata-kata di atas muncul ketika aku bicara padanya bahwa entah kenapa, aku sedang sendiri dan memilih untuk sendiri.

Sendiri dalam arti tidak sedang dekat atau berada dilingkaran pertemanan yang intens, berkomunikasi dengan orang banyak. Jarang menyentuh aplikasi chatting, membalas chat orang lain atau mengirim chat duluan. Sudah lama tidak keluar rumah, mandi 2 hari sekali, berkutat pada buku dan laptop dari bangun tidur hingga kembali tidur. Hanya keluar rumah pada saat kelulusan, jadwal buka puasa bersama yang memang sudah direncanakan satu bulan sebelumnya, dan ulangtahun teman.
Entah bagimu terdengar menyedihkan, tapi bagiku ini sangat menyenangkan. Jujur saja, aku muak. Akan apapun, jika kau ingin bertanya. Tidak ada yang perlu disalahkan dan tak ada yang salah. Semuanya terasa narural dan baik-baik saja. Bahkan aku tak pernah merasa lebih tenang sebelumnya.
Mungkin benar, ada saat dimana seseorang benar-benar butuh sendiri, bagiku aku sedang disaatnya.
Kesendirianku ini melahirkan banyak hal baru yang membentuk 'aku' yang baru. Aku merasa banyak hal yang berubah dari diriku, entah orang lain menyadarinya atau tidak. Aku tidak perlu merepotkan orang lain dan orang lain tak perlu merepotkanku. Lebih banyak waktu untuk memikirkan diriku sendiri, apa yang baik untukku, apa yang harus aku prioritaskan, apa yang membuatku senang, dan banyak hal mengenai apa yang untukku. Semuanya berkembang menjadi satu pemikiran yang akhirnya secara tak sadar mengeliminasi pemikiran lama yang hanya akan membuat diriku tidak bahagia. Bahkan hal yang menyakitkan untukku yang terjadi 1 minggu lalu atau bahkan satu jam yang lalu, aku lupa dan tak merasakan apapun lagi.
Lucu, bukan? Kau menemukan satu titik dimana kau akan merasa 'aku' hanya lewat berpikir dan menyendiri. 

Sekarang aku mengerti, kenapa banyak orang bijak dan suci di zamannya mencari 'aku' lewat pertapaan. Kesendirian memaksamu untuk berpikir hanya tentangmu.

Maka dari itu, terkadang kau selalu butuh masa sendiri untuk menemukan 'aku'-mu. Kau tahu? Aku sedikit demi sedikit menemukan 'aku'.

Comments

Popular posts from this blog

2015 (Bagian IV : Kawan)

Maaf urutan peristiwa di bagian-bagian 2015 agak berantakan, aku menulis sesuai ingatanku. Dan yang terakhir, aku akan menceritakan kisah pertemananku sepanjang 2015. Yang pertama adalah tentang pertemuan. Di awal 2015, aku mulai les di kursus menggambar khusus persiapan masuk seni rupa dan arsitektur. Nama tempat kursusnya 'SR104'. Lokasi utamanya dekat dengan kampus ganeca ITB di Jalan Ciungwanara tapi dulu sebelum persengketaan memanas ruang belajarnya terletak di suatu gedung sekolah tinggi di Dago dan kami diberi ruang kelas selama 2 jam pas. Sekarang gedung itu sudah kosong melompong. Dan aku jauh lebih suka suasana belajar di Ciungwanara, tempatnya terbilang kecil tapi kami jauh lebih membaur.  Seminggu dua minggu awal les, kami semua saling diam. Ada beberapa yang sering bersuara saat kelas karena mereka satu sekolah. Aku bukan tipe orang yang bisa menyapa orang duluan, jadi satu dua minggu awal aku hanya suka berbicara dengan para pengajar. Lalu ada h...

Keparat

Semakin besar diriku, dan seiring waktu berjalan, ketakutanku semakin jelas dan nyata : aku takut ditinggal. Sejak SMA, bangun di awal dini hari kemudian terkadang tidur lagi atau tidak sama sekali hanya sekadar terkadang. Lalu terhitung sejak tahun lalu, aku makin sangat sering terbangun dini hari dan berakhir tidur hanya hitungan 2-4 jam. Dan akhir-akhir ini, antara jam 12-4 aku selalu terbangun. Atau bahkan tidak tidur sama sekali. (Dan kemudian lingkaran hitam sekitar mataku semakin jelas) Aku amat suka malam dan hujan. Aku jatuh cinta akan kesunyiannya dan hujam air yang juga menciptakan kesunyian di dalam kebisingan, lalu tercipta suasana yang menenggelamkan kita pada kejujuran, kenangan, dan segala yang menuntun kita pada pikirian jernih. Tapi akhir-akhir ini pula, aku jadi sangat membenci malam dan hujan. Syahdu itu malah menciptakan monster menakutkan yang mengejarku, yang seolah-olah terus mendesakku bahwa cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya akan menin...
persetan dengan senja persetan dengan hujan perasaan datang tak mengenal waktu memori terulang tak mengenal musim kebencian juga datang tak mengenal suasana