Skip to main content

Posts

Untuk Beberapa Lama Sejak Lalu Sampai Nanti Entah Kapan, Aku 'Tak Bisa Jatuh Cinta.

Untuk beberapa lama sejak lalu sampai nanti entah kapan, aku tak mau jatuh cinta. Kau tahu betapa merepotkannya hal itu? Kita jatuh cinta (kembali) hanya demi menghapus masa lalu atau bahkan sekedar memudarkan kesendirian yang terlalu lama. Lalu kau mencari seseorang yang baru. Saat kau menemukan seseorang itu, kau harus memulai banyak proses dari nol; menyiapkan mental, menahan banyak rasa ingin tahu dan rasa aneh yang menjalar diperut dan hatimu, menggali informasi tentang dirinya dan apa yang berkaitan dengannya, mencari cara agar bisa berbicara banyak dengannya, dan langkah-langkah awal lainnya. Jika kau sudah melalui proses awal, lalu kau mulai melangkah ke proses pertengahan (jika kau beruntung, belum jika kau gagal dan sudah sakit hati di awal). Kau mulai berbicara intens dengannya, menemukan banyak topik pembicaraan dan kau harus terus menjaga komunikasi juga mencari topik-topik lainnya. Uh, merepotkan. Tiba diproses puncak ketika kau dirasa punya kendali atas keputusan ...
"Ada saatnya kamu bakalan ngerasa muak sama banyak hal, bahkan termasuk zona nyaman kamu sendiri, teman-teman kamu, darimana kamu berasal, dan lainnya. Dan ga apa-apa, kok, ngerasa kaya gitu,". Beberapa minggu kebelakang ini, aku sedang sering-seringnya mengobrol dengan satu sepupu. Kita memang dekat sejak bayi, pernah satu tempat tinggal lalu keluarganya memutuskan untuk pindah ke rumah sendiri saat aku menginjak jenjang SD akhir menuju SMP dan dia SMA. Sekarang aku baru saja lulus SMA dan dia mahasiswa tingkat akhir di fakultas dan jurusan impianku. Kita jadi sering mengobrol dan semakin dekat karena ada satu dan lain hal yang saling berhubungan lalu end up with mengobrol lewat telfon larut malam untuk sekedar curhat. Kata-kata di atas muncul ketika aku bicara padanya bahwa entah kenapa, aku sedang sendiri dan memilih untuk sendiri. Sendiri dalam arti tidak sedang dekat atau berada dilingkaran pertemanan yang intens, berkomunikasi dengan orang banyak. ...

Kendali Manusia

Hari itu,  pagi itu,  ia berkata dengan sangat jelas dan lantang,  menjawab pertanyaanku tentang ketidakadilan yang selalu aku rasakan tentang kepergian, mendobrak satu pintu kesadaranku hingga air mata jatuh begitu saja, “Tak ada seorangpun yang punya kendali atas siapa yang harus datang atau pergi dalam hidupnya, tak terkecuali aku atau kamu,”. Tak lama ia pamit.  Dan kemudian menjadi suara terakhir darinya yang aku dengar hingga saat ini, atau selamanya kemudian. Menyadarkanku, setelah awalnya aku tak berhenti mengutuk diriku atas ketidakberdayaanku dan kerap menciptakan awan gelap di hari-hari terik untukku...
Aku sedang mempelajari suatu hal saat ini : Semakin kau menemukan dirimu sendiri, kau akan kehilangan banyak orang. And that's okay , because who sticks with you are your real friends . Dan kau pasti akan senang dalam proses 'seleksi' ini. Kau bisa memastikan : 1. Mereka yang tetap bersamamu atas segala perubahanmu menuju dirimu yang sebenarnya are your true friends . 2. Mereka yang tak pernah benar-benar menghargaimu untuk dirimu yang sebenarnya, mereka perlahan menjauh.  Maka kehilangan saat proses ini justru hal baik. Bahkan jika kau kehilangan seseorang yang kau cintai. Mereka tak layak mendapatkan hatimu Kau selangkah lebih dekat menuju kebahagiaan.

Bumi dan Galaksi Lain

Walau terkadang aku menyangkal apa yang ibuku lakukan atau katakan karena aku pikir ia terkadang terlalu banyak berbicara, tapi aku akui aku selalu ingin bisa seperti ibuku yang bisa menyampaikan apa yang ia rasakan. Aku iri pada keberaniannya. Ia selalu berani menyampaikan pendapatnya tanpa ragu dan takut akan celaan atau penolakan orang lain, ia selalu berani mempertahankan prinsipnya demi menjadi diri sendiri. Kepercayaan diri seperti itu seperti bumi dan galaksi lain dibandingkan dengan kepercayaanku pada diriku sendiri. Terkadang aku kesal karena kejujuran ibuku yang selalu langsung menghujam perasaan, atau luapan emosi ibuku yang membuatku dan sekitarnya kewalahan. Tapi di satu sisi aku begitu bangga dengannya, karena ia selalu tau apapun yang ia lakukan, ia selalu mempunyai 1 prinsip tetap ; "Mama tak pernah mau memendam perasaan. Semakin sering kita sungkan lalu berakhir dengan selalu memendam perasaan, semakin banyak masalah yang kita buat," Aku mengerti maksudn...

Sampai secukup apa?

Ia tak tahu sampai kapan akan selalu merasa tidak cukup untuk hal apapun. Ia selalu mencemaskan orang lain, hal-hal disekitarnya sampai dadanya sesak dan terkadang terisak di tengah malam. Tapi sebagian dirinya yang lain merasa sama sekali tidak peduli, sampai ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan selain diam. Ia terombang-ambing di perbatasan antara cemas dan tak peduli. Lalu suatu hari pasti ada saatnya ia akan jatuh ke salah satu jurangnya, dan ia tak akan pernah tau akan terjerembab selamanya di jurang yang mana. Ia merasa semua ini terjadi karena semua rasa cemas yang ia berikan kepada siapapun selalu berakhir sia-sia atau mungkin ia memang tak pernah benar-benar dianggap siapa-siapa. Ia mungkin memang didesain untuk sendirian karena ketika ia mencoba untuk berlari bersama orang lain yang sedang berlari, mereka justru memilih untuk berhenti. Ia lebih merasa tenang sendirian ketika kepalanya berteriak, "Carilah teman!". Dan ketika ia menemukan mereka, giliran kep...

Merakit Sentosa

Kau akan selalu menemukan kebenaran yang menyenangkan disaat kau tersaruk mengais kebahagiaan yang dirasa jauh. Percayalah bahwa apapun yang kau usahakan tak akan pernah sia-sia, selama kau benar-benar tulus dan rela mengeluarkan segala kemampuanmu. Tak lupa disertai doa. Lalu saat kau sudah mengerahkan semuanya, berpasrahlah pada Tuhan karena semua usahamu akan terbayar. Entah wujudnya sesuai bayanganmu atau jauh diluar itu, semuanya akan sepadan. Jika sesuai bayanganmu, berarti kau akan bahagia sesuai bayanganmu. Jika itu tak sesuai, kelak kau akan bahagia karena mendapatkan perbekalan berharga untuk pelayaranmu melawan ombak lautan esok hari dan seterusnya. Kebahagiaan tak bisa kau raih dari hasil harap termangu sewindu tanpa menggerakkan badan untuk berlari, mencari, dan menciptakannya sendiri. Kau tak bisa mendapatkan rasa bahagia dari terus mengharapkan orang lain akan tiba-tiba mewujudkannya. Ayolah, bahkan dongeng-dongeng yang suka kau baca di masa kecilmu selalu mencerit...